angka keberuntunganmu hari ini

Jumat, 05 Juli 2013

3 tahun, 6 semester, dan satu keluarga “PSTP 2010”

“Ketika aku lulus aqu ga merasa apa apa karena aqu pikir kalian masih di situ.. Kehilangan itu muncul ketika aqu kuliah tapi kalian sudah tidak disitu lagi..” ( Reasita, 2013 )

Saya masih bingung memulai tulisan ini dari mana, rasanya sudah lama sejak terakhir kali saya posting di blog. Tetapi yang jelas, tulisan ini terinspirasi oleh post teman saya, Reasita di halaman grup FB PSTP UNAIR 2010. Isi post itu sederhana, yaitu yang saya kutip diatas. Apalagi dalam kondisi saya yang baru saja selesai uas, tentu saja kesulitan untuk memahami isi pesan. Setelah saya membaca berulang - ulang, barulah saya memahami apa makna dari post tersebut.

Jumat 5 Juli 2013, pukul 9:19. Sebuah notifikasi muncul di layar blackberry saya. Lampu led berkedip – kedip memancarkan warna biru. Ah, ada pembeitahuan facebook. Saya pun membuka pemberitahuan tersebut, yang ternyata adalah post dari Reasita pada halaman grup PSTP UNAIR 2010. “Ketika aku lulus aqu ga merasa apa apa karena aqu pikir kalian masih di situ.. Kehilangan itu muncul ketika aqu kuliah tapi kalian sudah tidak disitu lagi..” ( Reasita, 2013 ). Saya pun diam, lalu secara perlahan – lahan saya masuk ke dalam makna dari post tersebut. Ya, Reasita adalah teman satu angkatan saya di PSTP 2010, yang sudah lebih dulu menyelesaikan kuliahnya secara “prematur” pada bulan maret 2013 kemarin. Pada awalnya saya tidak ngeh dengan post yang dikirimkan oleh Reasita. Bahkan, akhir – akhir ini saya pun tidak ngeh dengan keberadaan teman – teman lain satu angkatan. Saya terlalu disibukkan dengan Tugas Akhir. Ya, Tugas Akhir. Saya terlalu larut dalam keindividuan dan keantisosialan. Dalam benak saya saat itu adalah bagaimana menyeleaikan tugas akhir beserta revisinya. Tidak terhitung berapa kali saya menolak ajakan teman – teman untuk berkumpul. Tidak hanya saya, mungkin teman – teman saya juga merasakan hal yang sama. Kami terlalu disibukkan dengan urusan masing – masing. Setidaknya sampai pagi ini. Sampai saya membaca post Reasita.

Saya merasa disadarkan dengan post itu, bahwa saya mempunyai keluarga. Keluarga tempat saya berbagi pengalaman selama 6 semester ini. Dengan mengatasnamakan TA, saya seakan melupakan keluarga saya. Saya pun berfikir, mungkin komunikasi. Komunikasi yang menjadi akar dari menjauhnya saya dari keluarga saya ini. Intensitas kuliah yang jarang, waktu yang terasa sudah tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Atau mungkin kesibukan. Kesibukan dengan pacar, kesibukan dengan urusan dirumah, kesibukan dengan organisasi, atau ke-sok-sibukan seperti saya.

Jika di flashback, ada banyak kenangan yang telah kami lalui bersama. Moment perkenalan, mengerjakan tugas di perpus, rapat di gedung c, peserta BPS, Panitia BPS, jalan – jalan ke berbagai tempat, hima cup, formaba, ufo, senior BPS, dan masih banyak lagi. Belum lagi moment – moment kecil yang membahagiakan seperti ulang tahun dmen, pesek, kak banteng yang disiksa sedemikian rupa. Selain pengalaman bahagia itu, ada juga pengalaman menyedihkan yang kami alami. Fuad dan Teguh yang tidak melanjutkan studi, Alm. Handi Prayudha yang sudah dipanggil oleh Allah SWT untuk kembali ke sisi-Nya (selamat jalan kawan, aku yakin kamu bahagia disana J), hingga Ahong yang tiba – tiba memutuskan untuk cuti kuliah. Kalau diingat – ingat, pengalaman – pengalaman itu sungguh berharga. Sebuah pembelajaran bersama bagi kami. Baik secara psikis, fisik, dan akademis.

6 semester, 3 tahun. Bukanlah waktu yang singkat untuk kami saling mengenal satu sama lain. Bukan pula waktu yang singkat untuk menyatukan kami sebagai keluarga. Saya merasakan pesan yang disampaikan Reasita melalui post tersebut. Rasa sedih karena akan berpisah dengan teman teman, oh bukan teman tetapi keluarga. Keluarga yang dipersatukan oleh perbedaan, kebahagiaan, kesedihan, konflik internal/eksternal dan masih banyak lagi. Mungkin Reasita berharap, kami yang akan segera menyelesaikan studi ini akan tetap ingat. Bahwa kami adalah keluarga. Mungkin Reasita juga tidak ingin kebersamaan di bangku kuliah selama hampir 3 tahun ini hilang begitu saja seiring dengan lulusnya satu – persatu dari kami. Saya pun satu pemikiran dengan Reasita, saya tidak ingin keluarga ini berpisah. Cukuplah raga yang mungkin akan terpisahkan oleh jarak. Tetapi hati kami tetap berkumpul menjadi satu.

Saya pun tersadar dari lamunan ini. Seiring dengan habisnya cairah ekstraksi dari pucuk teh yang saya minum, saya menemukan inspirasi untuk menulis post ini. sambil mengaduk – aduk es batu yang tersisa di gelas, saya optimis. Bahwa keluarga PSTP UNAIR 2010 akan tetap menjadi keluarga. Untuk mewujudkan ini, bisa dimulai dari diri sendiri. Ya, saya berjanji kepada diri saya dan Allah SWT. Bahwa saya akan terus mengingat keluarga ini. karena ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya. :) 

Jumat, 05 April 2013

Sedikit pengalaman Bersama Selamat Group

Post ini merupakan pendapat pribadi, bukan untuk mempromosikan Salah satu PO maupun merendahkan PO lainnya.

Selamat Group ( dulu Sumber Group ) merupakan sebuah Perusahaan Otobus yang beroperasi di jalan Antar Kota Antar Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Awalnya PO ini memiliki nama Sumber Kencono. Tetapi, karena terlibat dalam beberapa insiden kecelakaan dan sering "diberitakan" sebagai pihak yang salah,  akhirnya PO ini menganti namanya dengan Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu.

Awalnya saya tidak begitu mengenal PO ini, karena kota tempat tinggal saya bukan merupakan jalur yang dilewati oleh trayeknya. Saya mengenal PO ini dari cerita beberapa teman yang mengatakan bahwa PO ini merupakan salah satu bis yang "banter". Seiring dengan santernya pemberitaan di media yang mengekspose insiden kecelakaan yang melibatkan bis Sumber Kencono, saya mulai penasaran.

Semakin lama, pemberitaan di media terkesan semakin menyudutkan PO ini, bahkan ada yang mengisukan bahwa ijin trayek PO ini akan dicabut. Beruntung isu pencabutan trayek tersebut tidak terjadi dan PO ini muncul dengan armada baru yang bernama Sumber Selamat. Tidak lama kemudian, muncul lagi armada dengan nama Sugeng Rahayu seiring dengan mulai ditinggalkannya nama Sumber Kencono. Pemberitaan di media yang menyudutkan, isu pencabutan ijin trayek dan pergantian nama ternyata tidak juga menyurutkan kesetiaan para pelanggan Selamat Group. Mereka tetap memilih untuk naik bis ini walaupun di dalam sudah penuh sesak. Sebuah pertanyaan muncul di benak saya "kenapa orang - orang masih menjadikan bis ini sebagai pilihan dalam beprgian, padahal ada banyak PO lain yang beroperasi di trayek yang sama. apa yang menjadi nilai lebih dari PO ini ?". Saya mulai tertarik untuk mencari tau, karena memang dari awal saya meyakini bahwa PO ini tidak seperti yang diberitakan di media.

Ada teman yang mengatakan bahwa PO ini memberikan potongan tarif bagi orang yang menjadi pelanggan ( langganan ) setia. Ya, memang PO ini memiliki tarif langganan yang lebih murah dari tarif normal, tapi saya kira jawabannya bukan itu. Karena PO lain juga ada yang memberikan tarif langganan kepada pelanggan mereka. Ada yang mengatakan bis ini "banter" jadi lebih cepat sampai. Tapi sekali lagi, menurut saya bukan ini alasannya, karena cepat tidaknya bis untuk sampai di tujuan dipengaruhi berbagai faktor. Dan dengan kemacetan di jalan raya sekarang ini, selisih antara cepat dan lambat menjadi tidak terlalu jauh.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari jawaban itu sendiri, yaitu dengan mencoba menaiki PO ini dalam perjalanan jarak dekat, Surabaya - Mojokerto PP. Saya mendapati bis Sumber Selamat sedang bersiap di jalur keberangkatan, saya langsung naik ke bis ini. Masuk ke dalam bis, saya langsung mencium aroma pengharum ruangan. Lalu saya melihat kursi dan lantai bis yang bersih. Saat mencoba kursi penumpang, saya mulai menemukan jawaban dari pertanyaan saya diatas. Kursi penumpang Selamat Group terasa nyaman dan jarak antar kursi lebih lebar dari PO lain. Setelah saya hitung, Kursi di armada Selamat group 1 baris lebih sedikit dari PO lain, hal inilah yang menjadikan jarak antar kursi lebih lebar, sehingga nyaman bagi penumpang. saat bis berjalan, sopir lumayan ngebut, tetapi tidak ngawur. Kondektur yang menarik ongkos pun ramah. Bukti dari keramahan kondektur bis yang saya tumpangi ini terlihat saat ada penumpang yang mabuk perjalanan dan muntah, kondektur langsung meminta maaf kepada penumpang jika ada yang terkena muntahan. Satu lagi, semua kru selamat group berseragam, sehingga mudah dikenali. Selanjutnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan, karena hanya perjalanan jarak dekat.

Saat perjalanan kembali ke Surabaya, saya memutuskan untuk kembali menaiki armada Selamat Group. Cukup lama saya menunggu, sampai akhirnya ada 1 armada non ac yang lewat. Disini saya melihat 1 kejadian yang menyentuh, sang kernet membantu seorang kakek yang kesulitan pada saat akan turun dengan ramah. Kejadian ini semakin menguatkan pendapat awal saya, Selamat Group merupakan salah satu PO yang memiliki manajemen, armada, dan kru yang baik, terlepas dari "pemberitaan" media yang menyudutkan  dengan anggapan bahwa PO ini mengabaikan keselamatan dan kenyamanan penumpang hanya demi mengejar setoran. Logikanya, jika PO ini mengabaikan keselamatan penumpang, kenapa sang kondektur mau membantu penumpang saat turun ( saya pernah melihat di PO lain, seorang nenek dimarahi oleh kondektur karena tidak bergegas turun saat sudah sampai di tujuan ). Saya memutuskan untuk menunggu armada berikutnya ( sebenarnya cukup menyesal tidak ikut yang non ac, mengingat armada non ac dari Selamat Group sudah langka ). Akhirnya datang juga armada yang saya tunggu, Sugeng Rahayu ac. Sama seperti sebelumnya, kondektur bis ini juga ramah. dan kali ini sang sopir tidak terlalu memacu kendaraannya terlalu kencang, walau begitu, bis ini masih bisa menyalip beberapa bus yang ada di depannya. 

Dari perjalanan Surabaya - Mojokerto PP ini, saya menemukan apa yang menjadi nilai lebih dari Selamat Group yang menjadi alasan para penggemarnya untuk tetap setia menjadi pelanggan. Dan sekaligus membenarkan pendapat saya, bahwa insiden kecelakaan yang melibatkan oleh PO ini bukan semata disebabkan oleh kesalahan dari pihak Selamat Group tetapi lebih kepada etika berkendara masyarakat yang sudah mulai luntur.
Tetapi sekali lagi, Post ini merupakan pendapat saya pribadi. Karena pada kenyataannya di lapangan, semua PO memiliki penggemar sendiri - sendiri, tentu saja dengan alasan mereka masing - masing. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

Graduate

"Graduate", adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "lulus". Post saya kali ini akan membahas tentang hal yang berhubungan dengan kelulusan.

Dalam hidup ini, ada banyak sekali hal yang berhubungan dengan kelulusan. Lulus ujian, lulus tes, lulus pendidikan dan masih banyak lagi. Baru - baru ini, tepatnya tanggal 26 Maret 2013 merupakan hari yang bahagia bagi sebagian mahasiswa Universitas Airlangga. Karena pada tanggal itu mereka akan dinyatakan telah menyelesaikan masa pendidikan di Universitas Airlangga dan dinyatakan lulus. Diantara mahasiswa yang lulus tersebut, ada 2 orang kawan kami di PSTP. mereka adalah Reasita dan Ivo.

Keduanya lulus secara "prematur", mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan kelulusan mereka yang setengah tahun ( 1 semester ) lebih cepat dari waktu normal untuk mahasiswa program Diploma 3. Ada perasaan senang karena melihat 2 kawan kami ini tersenyum menyambut saya bersama rekan satu angkatan lain lengkap dengan baju toga yang menjadi impian bagi setiap mahasiswa untuk segera memakainya. Seolah waktu berputar membawa saya ke masa diawal kami baru memasuki bangku kuliah. Teringat jelas momen perkenalan kami di kelas, mengerjakan tugas di perpustakaan, rapat di depan gedung C, hingga berbagai kegiatan yang telah kami lakukan bersama. tiba - tiba waktu memutar kembali dan mengembalikan saya dari ingatan masa awal kuliah ke Airlangga Convention Center tempat berlangsungnya prosesi wisuda. Di depan kawan - kawan saya yang sedang berfoto bersama merayakan kelulusan. Saya tersenyum dan turut bergabung dalam kegiatan foto.

Disamping perasaan senang karena sudah ada kawan kami yang lulus, ada juga perasaan sedih. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tidak terasa kami sudah semester 6. Sebentar lagi, satu persatu dari kami akan mengikuti jejak Reasita dan Ivo, menyelesaikan studi kami dan dinyatakan lulus. Kami sedih karena masa - masa kuliah itu segera berlalu. Hal itu sudah mulai kami rasakan, di semester 6 ini saya hanya mengambil 4 mata kuliah ( termasuk Tugas Akhir ). Sebagian besar dari kami juga kurang lebih sama, hanya mengambil beberapa mata kuliah. Imbasnya, intensitas kami untuk bertemu di kampus menjadi berkurang. Kami yang dulu sering tidak masuk kuliah atau bahkan malas untuk sekedar datang ke kampus, sekarang menjadi ingin sering - sering berada di kampus. Bahkan saya beberapa kali ikut masuk ke kelas yang sebenarnya sudah saya ambil di semester awal. Hal itu saya lakukan karena pada saat kuliah inilah kami bisa berkumpul, berbagi cerita, selebihnya, kami lebih banyak dipisahkan oleh urusan pribadi masing - masing.

Tapi, waktu akan terus berputar. Kilatan blitz kamera membuyarkan lamunan saya. Saya sadar, dalam waktu dekat ini akan tiba giliran kami untuk diwisuda. Masih ada banyak waktu untuk merekatkan kembali kekeluargaan kami. Karena itu saya yakin, walaupun kami sudah diwisuda dan melanjutkan perjalanan kami yang mungkin tidak akan searah, kami tetap ingat bahwa kami satu keluarga, PSTP 2010 dan satu keluarga besar PSTP UNAIR.

Minggu, 06 November 2011

Idul Adha

hari ini, 6 Nopember 2011 / 10 Dzulhijjah 1432 adalah hari raya idul adha pertama yang kujalani jauh dari keluarga. ya, keluargaku di ponorogo dan aku sekarang di surabaya untuk menuntut ilmu. awalnya berat, karena walaupun idul adha, aku selalu merayakan bersama keluarga, teman - teman dan seluruh warga kampungku. apalagi tadi malam gema takbir bersahutan semakin menambah rasa rindu akan kampung halaman. malam takbiran kuhabiskan hanya bersama teman sekamarku di kost.
pagi ini aku mengikuti sholat ied di masjid dekat kost, dan hal ini kembali mengingatkanku dengan suasana hari raya idul adha di kampung, walaupun aku tidak ikut menikmati daging kurban (perutku sangat anti dengan daging kambing sedangkan aku jarang mendapat jatah daging sapi) tetapi tetap saja ada yang spesial. sepulang dari sholat ied aku langsung sarapan lalu kembali ke pelukan kasur di kamarku. lebih baik tidur daripada membayangkan kegiatan idul adha di kampung. 
tak banyak yang bisa kutulis disini, hanya do'a yang ku panjatkan "semoga amal orang - orang yang ber Qurban diterima Allah SWT, dan untuk kambing, sapi, dan unta yang hari ini di eksekusi sembelih untuk di Qurbankan, selamat, kalian hewan terpilih yang akan berkumpul dengan domba yang dulu menggantikan Nabi Ismail AS saat akan di sembelih ayahnya Nabi Ibrahim AS sesuai dengan perintah Allah SWT, dan semoga idul adha mendatang aku bisa ikut ber Qurban, amin.

sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpKcKkpxcWvRQEcNLw8ErmQ0gZXBkUjoq2b6DDxLVoEes7cjY_oMKIKG6yZFyx8-tnNh-MAP0oJ2Fb1g8w7uubsBFVcvKo7XZK3z5w5GnNDow38KX5fiPKJnIfOq4TFVmOmmkPqVIHEXNZ/s1600/15+November+2010-Bola.jpg

sumber : http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://i778.photobucket.com/albums/yy67/kartunmania/B1011156.jpg&imgrefurl=http://kartunmania.com/2010/12/2674/&usg=__XpiwRhojC2x97p_jE4r-YIezDzo=&h=390&w=535&sz=41&hl=id&start=64&zoom=1&tbnid=Dx8vayG2ELwQfM:&tbnh=96&tbnw=132&ei=ZVO2Tq2iEozorQfb4OW8Aw&prev=/search%3Fq%3Dkurban%2Bkartun%26start%3D60%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26sa%3DN%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26channel%3Dnp%26tbm%3Disch%26prmd%3Dimvns&itbs=1

maaf, gak tega post gambar asli

Minggu, 30 Oktober 2011

Surabaya di mataku

    Surabaya, adalah salah satu kota besar di Indonesia, Ibukota Propinsi Jawa Timur. sebagai kota besar, Surabaya mampu memikat ribuan orang untuk mencari rejeki di sana. tetapi bukan itu yang membuatku menyukai kota ini. Lebih dari itu, surabaya adalah kota keduaku, 28 tahun ayahku bekerja disana sejak aku belum dilahirkan, bahkan sejak masih bujang ayahku sudah mencari nafkah di surabaya. oleh karena itu sejak kecil pikiranku sudah penuh dengan semua hal yang berhubungan dengan kota surabaya, mulai dari kemacetan, suhu udara yang panas, suporter sepakbola yang fanatik, 3 perguruan tinggi negeri ternama (Unair, Unesa, dan Its), mall - mall yang megah, sampai dengan  gang dolly tugu pahlawan dan jembatan merah yang terkenal.
    Seiring berjalannya waktu, mulai timbul keinginan untuk mengunjungi kota Surabaya. keinginanku terwujud pertama kali tahun 2004, waktu aku masih polos, belum begitu mengerti karena masih kelas 6 sd. pertama kali menginjakkan kaki di kota ini bersama ibu dan adikku (ayahku masih bekerja di pabrik) aku kagum dengan kota ini. memang benar kata ayah, kota ini sungguh jauh berbeda dengan Ponorogo kampung halamanku. saking besarnya kota ini, ibuku harus naik angkot berkali - kali untuk sampai di kontrakan ayah (pertama kali turun di terminal purabaya, bungurasih, sidoarjo, kontrakan ayah di sidotopo wetan (surabaya utara) kebayang kan jauhnya), belum lagi harus bertanya ke orang untuk mencari alamat *ayu ting ting mode : on*. well, akhirnya kami sampai di kontrakan ayah, lebih tepatnya kamar, karena hanya berukuran 3x5m. dalam kunjungan pertamaku ke surabaya ini (3 hari) aku dikenalkan dengan kebun binatang surabaya, tunjungan plaza, dan giant margorejo. setelah itu, baru 6 tahun kemudian aku bisa mengunjungi kota ini lagi.
    kunjungan keduaku ke kota ini adalah dalam rangka mewujudkan mimpiku untuk tinggal di kota ini dan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri.  akhirnya mimpi itu terwujud, walaupun harus bersusah payah mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi negeri. aku diterima di program studi teknisi perpustakaan (PSTP) UNAIR *wow*. ya, akhirnya aku bisa merasakan sendiri bagaimana tinggal di surabaya setelah kurang lebih 17 tahun hanya mendengar cerita dari ayah. tapi semua sudah berbeda, yang pertama dari segi usia, aku sudah lulus SMA, sudah mulai berfikir dewasa, dan kedua, ayahku sudah tidak mencari nafkah di kota ini lagi, tahun 2008 beliau mengundurkan diri dari pabrik dan bekerja di Ponorogo. di kujunganku yang kedua inilah aku mulai belajar tentang hidup, aku mulai mengenal bagaimana berbaur dengan orang - orang baru dengan berbagai latar belakang budaya, mngenal bagaimana kehidupan anak terlantar kos, mengenal teman - teman keluarga baru di PSTP, mengenal canda tawa sedih senang bahagia, marah, dan yang paling berkesan, mengenal cinta dan sakit hati. semua itu bercampur menjadi satu.
    tak terasa sudah setahun lebih aku tinggal di surabaya, kota impianku sejak kecil. dimataku surabaya adalah rumah kedua setelah Ponorogo. di kota inilah aku belajar, di kota inilah aku mengenal kalian, di kota inilah proses pendewasaanku berlangsung.  satu kata "walaupun berbeda, tetap satu cinta "Surabaya".

Minggu, 16 Oktober 2011

daftar ulang

setelah perjalanan panjang untuk bisa masuk PTN. ada kisah lain yang juga sangat berkesan.
setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru program diploma universitas airlangga pada tanggal 11 agt 2010. tanggal 12 agustus 2010 (tepat 18 tahun usiaku) aku berangkat ke mojosari untuk meminjam uang pada tanteku sekaligus minta tolong diantarkan ke surabaya untuk daftar ulang dalam kondisi puasa.
sampai di mojosari, sepupuku langsung minta traktiran dobel, untuk ultah, 1 untuk keterima di unair, hahaha lumayan, itung itung syukuran. jum'at tanggal 13 agustus 2011 aku langsung ke bank mandiri untuk transfer uang pendaftaran ulang. lalu langsung meluncur ke surabaya. dengan harapan setelah daftar ulang slesai aku bisa langsung balik ke ponorogo. tapi aku kurang berintung, begitu sampai di auditorium universitas airlangga, jam menunjukkan pukul 11.00 wib. pendaftaran ulang ditutup untuk sementara dan dibuka lagi jam 13.00 wib. WTH
akhirnya kami pun mencari masjid untuk sholat jum'at. setelah sempat nyasar sampai di stasiun gubeng, akhirnya nemu masjid juga. setelah sholat jum'at kami langsung balik lagi ke auditorium,,, setelah 2jam proses pendataan, pengukuran jas almamater dan pembuatan ktm, akhirnya proses daftar ulang selesai. tetapi jadwalku pulang harus diundur, karena tanggal 14 agustus aku harus tes ELPT. dan harus kembali ke surabaya.
14 agustus 2011, pukul 13.45 aku berangkat ke sby, dan masih tetap puasa. sampai di kampus b unair aku masuk ruang dan mengikuti tes. tes selesai saat waktu berbuka puasa,,, sialnya pas pembagian nasi untuk berbuka, aku gak kebagian. akhirnya berbuka sebungkus berdua dengan sepupuku. pukul 19.00 kami pulang ke mojosari, tetapi karena masih lapar, dengan berbekal muka tembok, kami mampir di rumah budeku untuk makan lagi, hahahaha. akhirnya kami sampai di mojosari pukul 22.00 dan langsung tepar.
ya, inilah kisah kami, kisah yang tak terlupakan dan akan menjadi kenangan sampai kapanpun. thank you very much bro...

jalan panjang menuju PSTP 2010

sedikit flashback,,, tiba tiba aku teringat bagaimana perjuanganku dalam mencari bangku kuliah sebelum akhirnya diterima di D3 - PROGRAM STUDI TEKNISI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA.
berawal saat di kelas 3 sma, ada pengumuman tentang pmdk prestasi yang diadakan universitas - universitas negeri di seluruh indonesia. sejak awal alu gak berminat untuk kuliah di unair, bukan apa-apa, masalah ekonomilah yang menghalangiku, dalam pikiran orang - orang unair adalah kampusnya orang-orang kaya, orang - orang pintar, sedangkan aku, kaya tidak, pintar apalagi.
di pmdk prestasi aku daftar di 2 universitas, 1 unesa surabaya, 1 uny jogja, dengan harapan apabila diterima, biaya kuliah gak terlalu tinggi, tetapi nasib berkata lain, diantara kabar bahagia teman2ku yang diterima, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak diterima di 2 universitas tersebut.
tidak terlalu lama meratapi nasib, aku mencoba peruntungan di STAN,,, sebenarnya gak ada niat ke STAN, tapi karena orangtua menyuruh, aku pun daftar di STAN panitia jogja (sekalian liburan). tetapi lagi - lagi gagal (aku malah seneng, kalau diterima malah stress, hari2 kuliah harus berhadapan dengan deretan angka2).
ketiga aku daftar SNMPTN, dan masih penasaran dengan yang namanya unesa, aku daftar di panitia lokal surabaya, tetapi lagi - lagi aku gagal. di antara teman2 yang gembira karena diterima SNMPTN, aku membangun semangat, dengan rasa sakit hati yang begitu besar kepada unesa. di tengah kebingungan , alvin teman sma ku bilang "kalau kamu pengen kuliah cepet trus peluang kerja banyak, coba ae unair d3 perpus" akupun nekat, ini harapan terakhir atau aku harus menunggu setaun lagi. menjelang hari H tes pmdk program diploma unair, aku terus memohon kepada tuhan agar bisa diterima (hal ini gak aku lakukan pada test2 sebelumnya).
3 hari setelah test,,, dengan harap2 cemas aku ke warnet dengan mahfud ((teman satu kampung), cobaan datang lagi, karena tidak membawa kartu peserta, aku gak bisa mencari namaku langsung, akhirnya mau tidak mau aku harus membaca 60 lembar halaman pdf. dari halaman 1 sampai 40 aku gak nemuin namaku, aku mulai pesimis, "apa benar aku harus menunggu tahun depan?" akhirnya mahfud yang lanjutin pencarian, dan YEAH! namamu ada,,, diterima di d3 teknisi perpustakaan. seakan gak percaya, aku langsung teriak ( dan langsung menjadi pusat perhatian seisi warnet). wow,,, aku ,,, jadi mahasiswa unair,,,? dan moment ini tepat di hari pertama puasa (11 agt 2010) sehari sebelum utahku :D
tetapi masalah datang lagi,,, daftar ulang dimulai sehari setelah pengumuman dan ditutup 3 hari setelah pengumuman, dengan waktu yang begitu singkat, orangtuaku harus menyapkan dana 5juta untuk daftar ulang, akhirnya diputuskan untuk pinjam uang ke tanteku yang tinggal di mojosari (mojokerto). sekalian minta tolong "kembaranku tapi beda pabrik" untuk nganter daftar ulang ke sby. 2 hari bolak balik sby dengan sepeda motor, dalam keadaan puasa dan dengan berbagai kejadian yang tak terlupakan ( next post ).
well, inilah aku, mahasiswa PSTP 2010, setelah 5x berjuang untuk masuk PTN. dan saya tidak pernah menyesal masuk di PSTP. i love PSTP :D

Selasa, 20 September 2011

perjalanan bulan ramadhan tahun 1432H

tahun ini adalah ramadhan keduaku yang harus kujalani di kota orang, jauh dari keluarga. banyak cerita yang tejadi, dan sebagian adalah cerita yang tidak harus ditiru. bayangkan, dalam 30 hari, aku hanya 4 x ikut sholat tarawih di masjid, 3x sholat berjamaah di kamar bersama anak2 kos, dan 10 x sholat sendiri karena gak ada temen buat di ajak jamaah, sisanya bisa ditebak, kekenyangan setelah berbuka dijadikan alasan buat gak ngejalanin sholat tarawih. bukan hanya itu aja, saat mau sholat tarawih berjamaah, anak2 usil dengan cara menarik sarung yang kupakai, otomatis anak2 pun tertawa. tiba2 ada bentakan dari lantai bawah ( aku kost di lantai 2, lantai 1 ditempati bapak kost beserta keluarga ) yang intinya anak2 bersik dan mengganggu orang tidur. WTF, jam 19.30 wib sudah waktunya tidur.?????
oke, beralih ke topik lain, saat sahur adalah saat2 krusial bagi anak kost. kebiasaan tidur laru malam menyebabkan anak2 sulit bangun, dan hasilnya, jam setengah 4 pagi, (imsak jam 4.10 wib) anak2 baru keluar cari makan, dan acara makan sahur berubah menjadi ajang kebut2an. karena makanan panas dan dikejar waktu. untunglah tepat saat imsak, anak2 udah selesai makan sahur.
saat berbuka juga menjadi moment krusial buat anak kost, ta'jil yang disediakan oleh bapak kost selalu jadi rebutan,,, bukan karena rakus, tetapi mununggu jatah anak lain yang tidak dimakan karena kekenyangan atau pulang kampung
dan akhirnya memasuki seminggu terakhir ramadhan, anak - anak kost pun mulai mudik ke kampungnya masing - masing. dimulai dari mas wawan tepat seminggu sebelum lebaran, disusul yolan (partnerku) yang pulang di hari kamis, dan aku yang pulang di hari jum'at dinihari, adat dan mas putra pada siang harinya, dan mas enggar yang pulang di hari sabtu.
ada berbagai kisah yang terjadi saat aku mudik, pertama, bermodal nekat, aku langsung menuju ke terminal sehabis makan sahur, dengan harapan sampai di terminal masih dinihari dan sepi, tetapi paku menggagalkan rencanaku yang tersusun rapi, ban sepeda moto adit yang mengantarku bocor, hampir 500 meter aku jalan kaki nyari tukang tambal ban,,, akhirnya setelah menunggu sekitar setengah jam, aku sampai di terminal purabaya surabaya. di terminal aku langung masuk bis tujuan ponorogo (ya, ponorogo adalag kampung halamanku) yang sedang antri di barisan terdepan. saat di bis ada hal yang mengingatkan akan masa kecilku. seorang anak dengan ibunya yang lucu, mengelurkan komentar2 tetang bis dengan polos dan blak - blakan, setiap ada pedagang asongan yang masuk pasti dibeli dagangannya, benar - benar potret masa kecilku. akhirnya sampai di ponorogo, tapi masih ada cobaan lain. jemputan datang 2 jam setelh aku sampai di terminal seloaji ponorogo, dalam keadaan aku masih puasa, (ya, aku puasa sebulan penuh *pamer*). tapi akhirnya rasa lelah itu terobati setelah bertemu bapak, ibuk, adek, eyang kakung dan eyang putri.
weel,,, ramadhan 1432h memang sudah berlalu setelah 29 hari berpuasa + 1hari additional time. hari kemenangan itu tiba :D. saatnya bersiap untuk menyambut ramadhan tahun depan :D

NB: 1 lagi,,, ramadhan juga mengenalkan aku dengan seseorang, gak ada yang spesial dari dia, tapi ada yang berbeda. berawal dari membantu temanku yang menjadi trainer ufo (orientasi maba) aku kenal dia. awalnya biasa tapi semakin hari ada hal yang tampak berbeda yang menyebabkan aku penasaran dan akhirnya rasa itu muncul... tapi, sekarang dia pergi, dengan membawa jawaban dari pertanyaan yang belum pernah tersampaikan...

Jumat, 06 Mei 2011

Cegah Satwa Punah » Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus)

Bangau Tongtong, Leptoptilos javanicus, adalah spesies burung dari familia bangau atau Ciconiidae. Tersebar di selatan Asia mulai dari India timur sampai pulau Jawa.

Tingginya sekitar 110-120 cm, berat 5 kg dan rentang sayap 210 cm. Spesies ini adalah yang terkecil dalam genus Leptoptilos. Bagian atas tubuhnya dan sayapnya berwarna hitam, namun perut dan bagian bawah ekor berwarna putih. Kepala dan lehernya botak. Paruhnya berwarna pucat, pancang dan tebal. Burung muda warnanya lebih kusam daripada burung dewasa.

Bangau ini, seperti jenis-jenis bangau lainnya, memakan kodok, serangga besar, burung kecil, kadal, dan binatang mengerat.

Cegah Satwa Punah » Biawak Komodo (Varanus komodoensis)

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.

Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

Cegah Satwa Punah » Macan Kumbang (Panthera pardus melas)

Macan Kumbang atau Macan Tutul Jawa, atau Harimau Hitam, yang dalam nama ilmiahnya Panthera pardus melas adalah salah satu subspesies dari Macan Tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi pulau Jawa, Indonesia.

Seperti Macan Tutul lainnya, Macan Kumbang berukuran besar, dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang mungkin merupakan hasil evolusi dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

Macan Kumbang adalah hewan soliter, kecuali pada musim berbiak. Hewan ini lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka hewan biasanya diletakkan di atas pohon.

Macan Kumbang merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Subspesies ini jika disilangkan dengan Macan Tutul biasa, memiliki anak macan yang berwarna seperti kedua induknya, kuning tutul ataupun hitam.

Sebagian besar populasi Macan Kumbang dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana hewan ini ditemukan sangat terbatas, Macan Kumbang dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Satwa ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.